NEWS

Kitab Berusia Ratusan Tahun Ditemuan di Pamekasan


Hanya Dua di Dunia, Pamekasan dan Kairo

DIJAGA: Tim Pusat Preservasi Naskah Perpustakaan Nasional (PPNPN) Jakarta, melakukan konservasi terhadap kitab kuno di Pamekasan. (KM/MIFTAHUL ARIFIN)

kabarmadura.co, (PAMEKASAN) – Jika dilihat sekilas, hanya nampak seperti kertas lusuh tanpa guna. Namun siapa sangka, dokumen tersebut merupakan naskah kuno, yang usianya sudah sekitar 400 tahun. Kitab kuno yang diperkirakan ditulis pada abad abad 16-17 berjudul “Bahrul Lahut” (Samudera Ketuhanan) itu, ditemukan di Pamekasan. Tepatnya di Pondok Pesantren Sumber Anyar, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan. Kitab ini merupakan kitab tasawuf-falsafi yang merupakan tulisan tangan ulama asal Aceh bernama Syech Abdullah Arief.

Miftahul Arifin, Pamekasan

Kini, kitab tersebut berada di tangan sepuluh orang dari Jakarta. Mereka bukan orang sembarangan, melainkan peneliti dari Tim Pusat Preservasi Naskah Perpustakaan Nasional (PPNPN) Jakarta. Tim ini sedang melakukan konservasi. Sebab, dokumen bernilai sejarah tinggi itu, sudah dalam kondisi rapuh. Bahkan sudah tidak utuh lagi. Banyak yang berlubang, akibat dimakan rayap, lantaran sudah lama tidak dipergunakan untuk dibaca. Sehingga perlu mendapat perhatian dan perlakuan khusus.

Proses konservasi dilakukan dari tahapan preservasi (pelestarian). Dengan cara perbaikan dan perawatan fisik. Perlakuannya harus ekstra hati-hati, agar tidak merusak bentuk asli kitab-kitab tersebut. Satu-persatu lembaran kitab kuno dibuka. Setelah berhasil dibuka, kemudian dilaminasi menggunakan tisu khusus dari Jepang.

Proses laminasi dilakukan untuk menjaga keasaman kertas yang lebih dulu disemprot cairan methanol yang dicampur dengan Barium Hydroxide. Sedikitnya, tim PPNPN Jakarta melaminasi 150 naskah kitab kuno tulisan tangan dengan usia rata-rata 400–600 tahun itu.

Setelah dilaminasi, kitab-kitab itu kemudian disusun ulang dan direkatkan. Setelah urutannya tersusun rapi, kitab yang sudah dijilid, dimasukkan kotak agar mampu bertahan sampai ratusan tahun. Masih menggunakan aksara Arab Pegon. Isinya membahas tentang filsafat ketuhanan. Kendati ditulis oleh ulama asal Aceh, kitab kuno ini diklaim sebagai karya ulama dari Malaysia. Pasalnya, katalognya ditemukan di Negeri Jiran itu.

Meski demikian, kitab yang diyakini milik Kyai Sukriwa, yang tak lain adalah cicit dari Kyai Zubair, pendiri ponpes Az-Zubair itu, masih disimpan di perpustakaan Raden Umro di kompleks ponpes setempat.

“Ada banyak kitab kuno dengan tulisan tangan di sini. Bahrul Lahur yang usianya diperkirakan berusia lebih dari 400 tahun itu, merupakan satu di antara kitab kuno yang ada di sini,” jelas pengelola perpustakaan Raden Umro, Habibullah Bahwi, Selasa (13/3).

Selain Bahrul Lahut, adapula kitab kuno bernama Al Muhith. Kitab karangan Muhammad Fairuz Zabadi ini, merupakan kamus bahasa Arab versi tulisan tangan. Uniknya, kitab tersebut hanya ditemukan di dua tempat di dunia. Yakni di Pamekasan dan di Universitas Al Azhar Kairo-Mesir.

Selain dua kitab fenomenal itu, masih banyak-banyak kitab-kitab kuno yang ada di perpustakaan Raden Umro. Sedikitnya ada sekitar 135 naskah dengan 5 sampai 10 judul kitab yang tersimpan di perpustakaan tersebut.

Di antaranya, naskah kitab kuno karya intelektual muslim, Ibnu Arabi, yakni kitab “Tuhfatul Mursalah” dan “Kitabul Waqad” atau ilmu astronomi yang juga ditulis dengan tangan. Salah satu isi kitab astronomi yang berbahasa Arab ini menjelaskan tentang peredaran bumi, bulan, dan matahari.

“Untuk Al Muhith, kata peneliti yang pernah ke sini, memang hanya ditemukan di Kairo dan di sini,” katanya.

Koordinator Tim Pusat Preservasi Naskah untuk Daerah Pamekasan Aris Riadi mengatakan, kitab yang tersimpan di Perpustakaan Radeb Umro, tergolong sudah sangat tua.  Kertasnya pun masih menggunakan daluang.

Daluang merupakan jenis kertas yang terbuat dari kulit kayu khusus. Pembuatan kertasnya pun secara manual, yakni dengan cara dipukul-pukul hingga tipis kemudian disambung dengan kulit kayu lainnya. Kualitas dari kertas daluang jauh lebih tinggi dari kertas buatan luar negeri.

“Nenek moyang kita sudah bisa membuat kertas dengan kualitas bagus dari kulit kayu dan daun lontar. Bahkan tulisan di kitab yang sudah ratusan ini tidak ada yang luntur, karena menggunakan tinta yang juga sangat bagus,” kata Aris Riadi. (waw)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top