NEWS

Pengendali Banjir Belum Berfungsi Baik


Ribuan KK Terendam Luapan Sungai

KELIMPUNGAN: Banjir luapan Sungai Kemuning di Kabupaten Sampang meluas ke 10 kelurahan/desa dan merendam ribuan KK. (KM/SUBHAN)

kabarmadura.co, (SAMPANG) – Penyebab banjir yang melanda Kabupaten Sampang, sudah terdeteksi. Seperti biasa, musibah tahunan itu akibat luapan air Sungai Kemuning yang tak mampu menampung naiknya debit air akibat hujan di wilayah utara Sampang. Secara bersamaan, di wilayah selatan, air laut sedang pasang. Sehingga mengakibatkan naiknya debit air dan membuat puluhan kelurahan/desa terendam banjir.

Sementara, pompa pengendalian banjir yang dibangun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, masih belum bekerja sempurna. Selain karena belum dibangun seluruhnya, saat pengoperasian dua unit rumah pompa yang sudah jadi, yakni di Jalan Teratai dan Desa Panggung, kerap mendapat kendala eksternal. Akibatnya, luapan air dari Sungai Kemuning tidak tercegah dengan baik, sehingga merendam sejumlah wilayah di Sampang.

Berdasarkan data Tim Reaksi Cepat (TRS) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebut, Senin (12/3) sekitar jam 11:00 siang, wilayah Kecamatan Sampang yang terendam banjir, meliputi Desa Pengelen, Banyumas, Kemuning, Tanggumung, Pasean, panggung, Gunung Maddah III Dusun Glisgis dengan rata-rata ketinggian air sekitar 10 sampai 20 cm.

Sedangkan untuk daerah kelurahan, meliputi Kelurahan Dalpenang yang merendam 11 kawasan, di antaranya, Jalan Imam Bonjol,  Mawar, Kamboja dan lainnya, dengan ketinggian air rata-rata dari 30 centimeter (cm) sampai 60 cm. Kelurahan Rongtengah yang terendam delapan titik dengan ketinggian air 20 cm hingga 30 cm dan Kelurahan Gunung Sekar di Jalan Delima dengan ketinggian air sekitar 10 cm.

Untuk fasilitas umum yang terdapak banjir ada sekitar 16, mulai dari dari lembaga pendidikan, sarana ibadah berupa masjid, kawasan perhotelan dan lainnya. Selain itu, terjadi pemadaman di sejumlah kawasan, yaitu di Jalan Iman Bonjol, Panglima Sudirman, Melati, Mawar, Bahagia dan Keramat.

Kabid Pengelolaan Sungai Dinas Pekerjaan Umum dan Penatan Ruang (PUPR) Kabupaten Sampang Saiful Muqoddas mengatakan, dari lima proyek pompa pengendali banjir, hanya ada dua yakni jalan Teratai dan desa Panggung yang sudah bisa dioperasikan. Dua unit rumah pompa tersebut belum bisa berjalan maksimal, salah satunya karena banyaknya tumpukan sampah dan kurangnya tenaga operasioanal rumah pompa.

“Tahun ini dua unit yang sudah beroperasi, tapi sering dimatikan karena banyaknya sampah yang masih ke dalam jaringan, sehingga membahayakan alat yang bekerja,” katanya.

Rumah pompa tersebut diakuinya menjadi sebagian kecil proses pegendalian banjir di Kota Sampang, karena tiga yang lain, yakni jalan Delima, jalan Bahagia, dan Kampung Kajuk, masih dalam proses lelang tahun 2018 ini. Sehingga untuk mendapat hasil maksimal, perlu menunggu rampungnya seluruh rumah pompa tersebut.

Kendati demikian, keberadaan rumah pompa bukan solusi utama pengendalian banjir yang kerap melanda Kota Sampang, karena pada dasarnya hanya digunakan untuk mengatur aliran air menuju sungai untuk dialihkan ke laut. Fungsinya hanya untuk mengalirkan air dengan skala kecil dengan kecepatan volume 500 liter perdetik dari setiap pipa utama. Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan UPT Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU-SDA) Provinsi Jawa Timur wilayah Madura sebagai kepanjangan tangan dari Dinas PU-SDA Jatim untuk membahas perkembangan pembangunan lima rumah pompa tersebut.

“Tiga rumah pompa terpaksa terpaksa diputus kontrak karena tidak sesuai dengan kesepakan yang telah dibuat di awal, sehingga dilakukan lelang tahun ini. Selain itu, ada beberapa komponen yang dilakukan penambahan, salah satunya penggunaan alat otomatis pada kendali mesin pompa, sehingga nantinya kalau air masuk maka akan beroperasi sendiri, sementara ini manual, termasuk dua unit yang ada,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Bantuan Sosial dan Perlindungan Sosial, Dinas Sosial (Dinsos) Sampang Syamsul Hidayat menyampaikan, untuk meringankan beban ribuan keluarga korban banjir di Kota Bahari, sudah disalurkan sejumlah bantuan kebutuhan pokok berupa nasi dan membuka dapur umum. Dapur umum yang disediakan diharapakan bisa memberi bantuan secara merata, mengingat, ribuan warga yang terdampak dipastikan tidak melakukan aktivitas rutin, karena kondisi rumahnya sedang digenangi air.

“Kami sudah membuka dapur umum di tiga titik yaitu Jalan Marepi dan Dusun Glisgis, untuk menyediakan bantuan makanan bagi warga yang terdampak banjir. Hingga saat ini, dapur umum terus kami buka agar warga terdampak banjir yang belum mendapat bantuan secara langsung bisa datang ke lokasi,” ucapnya kepada Kabar Madura, Senin (12/3). (sub/waw)

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top