NEWS

Pengembangan Sekolah Rujukan untuk SNP


Mohammad Iksan: Kabid Pembinaan SMP Disdik Sumenep. (KM/DOK)

kabarmadura.co, (SUMENEP)– Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep terus melakukan pengembangan untuk kemajuan pendidikan yang ada di Bumi Sumekar. Salah satu pengembangannya dengan melakukan pembinaan kepada sekolah yang sudah berakreditasi A atau sekolah rujukan, supaya memenuhi standart nasional pendidikan (SNP).

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Disdik Sumenep Mohammad Iksan menyampaikan, pihaknya akan melakukan pengembangan dan pembinaan terhadap sekolah rujukan. Hal tersebut diakuinya sebagai upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan.

“Adanya sekolah rujukan ini, untuk mendorong sekolah dalam memenuhi SNP,  guna pemerataan mutu pendidikan dengan kerjasama dan pemindaian antara sekolah rujukan dengan sekolah sekitarnya,” tuturnya, Senin (5/3).

Munurutnya, sekolah rujukan tersebut didasari atas kenyataan atau kondisi mutu pendidikan di seluruh Indonesia yang masih bervariasi dan masih banyak sekolah-sekolah  yang belum memenuhi SNP. Jadi, pihaknya akan berupaya agar sekolahan yang ada di Sumenep mutu pendidikannya juga meningkat.

“Pemenuhan SNP ditinjau dari nilai akreditasi dan pencapaian standar pelayanan minimal (SPM). Sebab, secara nasional, di tahun 2015, pencapaian SMP yang akreditasi B masih 56 persen dan SPM sebanyak 74,89 persen. Hal ini menunjukkan, bahwa pemenuhan SNP pada jenjang SMP masih jauh dari harapan,” bebernya.

Pemenuhan SNP, juga dilihat dari pencapaian nilai ujian nasional (UN) yang harus bagus. Sebab, jika ditinjau dari kualifikasi, atau kategori hasil UN tahun 2015 secara nasional adalah 61,29 dari 52.163 sekolah, maka itu memprihatinkan. Karena rata-rata masih masuk dalam kategori C atau mutu belum baik.

“Pemenuhan SNP tidak hanya dilihat dari yang saya sebutkan tadi. Tetapi juga dilihat dari pencapaian indeks integritas ujian nasional (IIUN), Sebab, jika dilihat dari rata-rata nilai UN dan IIUN, sekolah negeri masih kalah dari sekolah swasta,” ujarnya.

“Kemudian, juga dilihat dari kondisi kompetensi gurunya yang saat ini nilai standar kompetensi minimal (SKM) adalah 55, dan dilihat dari kemahiran membaca siswanya atau literasinya yang dipengaruhi oleh kompetensi pendidikan, standar penggunaan bahasa dan sistem pembelajaran, dan sumber daya pembelajaran bahasa dan sastra, ” imbuhnya. (yus/waw)

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top