OPINI

Demonstrasi a la Mahasiswa Zaman Now


“Jika modal dan tenaga kerja adalah ciri masyarakat industri, maka ciri masyarakat pascaindustri adalah informasi dan pengetahuan’

Ungkapan Daniel Bell dalam bukunya The Coming of Post-Industrial Society (1973) tersebut rupanya menjadi inspirasi Presiden BEM Universitas Indonesia (UI) Mohammad Zaadit Taqwa. (meski saya yakin Zaadit belum pernah membaca buku ini).

Terlepas apa motivasi sesungguhnya di balik aksi kontroversialnya, ia secara ‘cerdas’ mampu memanfaatkan kemajuan teknologi (internet, media sosial, dan media siber) menjadi alat informasi baru. Masa protes konvensional dengan pengerahan massa dan orasi terbuka mungkin sudah lewat.

Demo kali ini berbeda dengan 1966 ketika mahasiswa harus turun ke jalan sembari membawa poster dan melakukan orasi menuntut Tritura kepada Presiden Soekarno atau ketika mahasiswa meruntuhkan Soeharto dalam demonstrasi 1998 dan Malari pada 1974. Demikian juga aksi demo di era Presiden B.J. Habibie, Abdurrachman Wahid, Megawati Soekarno Puteri dan Susilo Bambang Yudhoyono

Dengan memanfaatkan teknologi, Zaadit tahu bahwa ia akan menjadi viral dan perhatian khalayak dengan caranya, yakni meniup peluit dan memberikan kartu kuning kepada Presiden Joko Widodo seolah dia adalah wasit dalam sebuah pertandingan sepak bola.

Lupakan dulu kaidah kultural yang mengatakan perbuatan tersebut tidak etis, dan sebagainya karena presiden menjadi tamu dalam acara di UI tersebut. Terlebih beliau adalah Presiden Republik Indonesia yang juga sebagai simbol negara. Mari kita bahas Zaadit Show ini melalui pendekatan akademis dan lupakan bahwa ia adalah kader partai oposon Presiden Joko Widodo (sempat dibantah oleh yang bersangkutan).

Sengaja ia meminta kawannya untuk merekam aksi tersebut dan memviralkan melalui media sosial yang berimbas menjadi pembahasan seluruh negeri. Zaadit seolah ingin menduplikasi kesuksesan Norman Kamaru yang menjadi hits pasca video jogednya beredar di media sosial dan dunia maya.

Media sosial telah menjelma menjadi sarana komunikasi, informasi, dan interaksi yang semakin masif di gunakan di era digital ini. Media sosial memberikan berbagai kelebihan yang mengatasi berbagai kendala komunikasi, informasi, dan interaksi yang dihadapi pada era sebelumnya. (Fayakhun Andriadi, Demokrasi di Tangan Netizen, 2016;274)

Karena kelebihan-kelebihan yang ditawarkan ini, media sosial menjadi sarana partisipasi politik dalam bentuk kampanye, sosialisasi, dan menyampaikan pendapat seperti yang dilakukan Zaadit.

Sebagai media komunikasi, media sosial memiliki ciri khas sebagaimana dikatakan Teri Kwal Gamble dan Richard Gamble dalam bukunya yang berjudul Communication Works.

Beberapa ciri dari media sosial tersebut antara lain: 1) Pesan yang disampaikan bisa menjangkau banyak orang, 2) Pesan yang disampaikan bersifat bebas tanpa melalui gatekeeper, 3) Pesan yang disampaikan lebih cepat sampai kepada komunikan, 4) Penerima pesan (komunikan) memiliki otoritas untuk menentukan kapan ia melakukan interaksi dengan penyampai pesan (komunikator).

Nyatanya, apa yang dilakukan Zaadit sukses menjadi viral dan mendapat respon langsung dari Presiden Joko Widodo yang mengatakan akan mengirim Zaadit dkk dari BEM UI ke Suku Asmat di Papua.

Kedua soal kartu kuning tersebut. Ilmu komunikasi mempelajari tentang teori semiotika atau simbol atau ikon yang dicetuskan oleh Charles Sanders Peirce, seorang filsuf Amerika, yang kemudian dilanjutkan oleh Ferdinand de Saussure (Swiss) yang terkenal dengan teorinya tentang tanda (simbol).

Secara etimologi, simbol berasal dari kata sym-ballien (Yunani) yang berarti melemparkan bersama suatu benda atau perbuatan yang dikaitkan dengan sebuah ide (Dick Hartoko & B. Rahmanto, Kamus Istilah Sastra, 1998:133).

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta, disebutkan simbol atau lambang adalah semacam tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu.

Dalam permainan sepak bola, kartu kuning merupakan tanda peringatan dari wasit kepada pemain yang telah melakukan pelanggaran. Kartu kuning artinya si pemain mendapat kesempatan kedua untuk menyelesaikan pertandingan dengan lebih baik sesuai aturan (dikutip dari akun twitter @satriohendri).

Kartu kuning tersebut menggambarkan jika dalam pandangan Zaadit, yang mengontruksi pemikirannya sebagai wasit, Presiden Joko Widodo telah melakukan sebuah kesalahan atau pelanggaran dalam memimpin negeri ini.

Terlepas apapun itu, cara protes Zaadit yang saya nilai cerdas kreatif ini adalah ciri generasi milenia atau sering disebut anak zaman now.

 

Rossi Rahardjo (Pemimpin Redaksi Harian Pagi Kabar Madura)

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top