NASIONAL

PCNU Perihatin Tindak Penganiayaan terhadap Guru


Rais Syuriah PCNU Kabupaten Sampang, KH Syaifiudin Abd Wahid (Kanan) saat ditemui disela sela kegiatanya beberapa waktu lalu. (KM/Dok)

kabarmadura.co, (SAMPANG) – Merasa perihatan atas tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh salah seorang siswa terhadap gurunya hingga meninggal dunia. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang secara resmi menginstruksikan kepada pengurus MWCNU, Ranting NU dan Badan Otonom Nahdlatul Ulama (Banom NU) se-Kabupaten Sampang untuk melaksanakan shalat ghaib setelah pelaksanaan sholat Jumat guna mendoakan semua jasa-jasa korban.

Rais Syuriah PCNU Kabupaten Sampang, KH Syaifiudin Abd Wahid yang dikonfirmasi melalui sekretaris PCNU Sampang Mahrus Zamroni mengatakan, surat elektronik yang dikirim secara berantai itu sengaja disampaikan oleh PCNU Sampang sebagai bentuk keperihatinan atas tercorengnya dunia pendidikan di Sampang.

“Memang benar bahwa PCNU Sampang telah menginstruksikan shalat ghaib sebagai bentuk keperihatinan. Itu kami lakukan sebagai bentuk dukungan moril terhadap keluarga korban,” katanya. Jum’at (1/2).

Menurut Mahrus Zamroni, tindak kekerasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh seorang murid terhadap gurunya merupakan tindakan yang kelewat batas serta sangat tidak sesuai dengan adat Madura yang menjunjung tinggi istilah ‘bhuppa’ bhâbhu’ ghuru rato’ atau ‘ayah, ibu, guru raja’.

“Bagaimanapun tindakan yang menghilangkan/menyebabkan orang lain kehilangan nyawa tidak dapat ditolerir, sehingga harus ditangani secara hukum,” tadasnya.

Untuk itu, sambung Mahrus, kami sangat berharap tidak terjadi lagi kejadian serupa karena jelas merusak citra dunia pendidikan.

Seperti dikabarkan sebelumnya, Guru kesenian di SMA Negeri 1 Torjun, Sampang, atas nama Budi Cahyanto meninggal dunia setelah dianiaya siswanya yang berinisial MH di lingkungan sekolah.

Kasus pemukulan oleh siswa MH terjadi saat guru Budi menyampaikan pelajaran kesenian. Saat itu, MH tertidur di dalam kelas. Budi langsung menghampiri yang bersangkutan dan mencoret wajahnya dengan tinta. Namun, MH yang merasa tidak terima langsung memukul Budi hingga mengenai bagian kepalanya dan sempat dilerai oleh siswa lainya.

Tak sampai disitu, seusai pulang sekolah, MH kembali melakukan tindak kekerasan kepada korban hingga yang bersangkutan didiagnosa mengalami pecah pembuluh darah otak oleh pihak Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya.

Guru nahas bernama Budi Cahyono itu dikenal pernah aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang. Beliau juga dikenal aktivis seni dan aktif di Lembaga Seni Mahasiswa Islam (LSMI) Malang, yakni sebuah lembaga seni mahasiswa di bawah naungan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang, Komisariat UM atau Universitas Malang.(sam)

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top