OPINI

Aku Cinta Kau dan Dia


Membentangkan syal bertuliskan BONEK di Stadion Gelora Bung Tomo saat pertandingan Persebaya melawan Madura United menjadi dilema tersendiri.

TIM sepak bola pertama yang saya tahu adalah Persebaya Surabaya. Maklum, sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di Surabaya, sejak usia balita papa sudah sering mengajak nonton pertandingan Persebaya (dan Niac Mitra tentunya) di Stadion Gelora 10 Nopember Surabaya.

Nama-nama seperti Syamsul Arifin, I Gusti Putu Yasa, Maura Hally, Nuryono Hariyadi, Subangkit, Mustaqim, Budi Johanes, Muharram Rusdiana dkk di era 1980an hingga pemain era 1990an seperti Jacksen F Tiago, Eri Irianto (alm), Yusuf Ekodono, Putut WidjanarkoWinedy Purwito, dkk dan awal 2000an seperti Bejo Sugiantoro, Mat Halil, Mursyid Effendi, Uston Nawawi dkk sangat familier di telinga.

Setiap Persebaya bermain, hampir dipastikan saya selalu berada di stadion. Jangankan bolos sekolah (dekat dengan Stadion 10 Nopember), uang SPP kerap terpakai untuk membeli tiket pertandingan Persebaya. Intinya, saya harus mendukung langsung saat Persebaya bertanding. Bahkan saat Persebaya terdegradasi rasa kecintaan itu belum memudar.

Gairah sebagai ‘bonek’tersebut mulai luntur saat terjadi dualisme klub hingga ada Persebaya DU dan Persebaya 1927. Malas datang ke stadion dan lebih memilih menjadi suporter layar kaca atau baca beritanya di media. Intrik politik yang dibawa ke Persebaya membuat saya lebih memilih ‘menggantung syal’.

2012, saya bergabung dengan sebuah media cetak harian yang baru diterbitkan, Kabar Madura, yang didirikan oleh dua tokoh Madura Achsanul Qosasi dan Cholili Ilyas.

Sebagai media yang didirikan salah satu tujuannya untuk memberitakan Persepam Madura United, mau tidak mau sebagai profesional saya setiap hari harus bergumul dengan pemberitaan tentang klub tersebut.

Saat itu, kecintaan terhadap Persepam Madura United hanyalah sebatas profesionalisme kerja. Mendukung? jawabnya iya. Cinta? tidak.

2016, Madura United FC lahir. Kabar Madura, kian tumbuh dan menjadi media officer klub berjuluk Laskar Sape Kerrab tersebut. Identitas makin terbentuk, Kabar Madura ya Madura United. Sementara Persebaya, masih ‘dikubur hidup-hidup’ oleh PSSI. Cintaku mulai terbagi dua, Persebaya dan Madura United. Mungkin ini pengejahwantaan pepatah jawa ‘witing tresna jalaran saka kulina’.

Madura United telah menjadi bagian hidup saya. Bangga ke mana-mana mengenakan jersey loreng merah putih khas Madura, termasuk berbagai aksesorisnya.

Kini, Persebaya telah kembali ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia. 28 Januari 2018, untuk kali pertama di laga resmi Persebaya saya datang kembali ke stadion. Kebetulan lawannya Madura United.

Benar-benar kikuk saat berada di dalam Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya. Dua tim sepak bola yang saya cintai harus saling berhadapan. Dukung siapa? dua-duanya. Mungkin saya menjadi satu-satunya penonton yang paling tegang di sepanjang pertandingan.

Saat penyerang Persebaya mengurung pertahanan Madura United, saya sangat deg-degan. Berharap Persebaya mencetak gol sekaligus mendoakan agar gawang Satria Tama tetap aman. Saat Ferinando Pahabol mencetak gol, perasaan senang dan sedih berkecamuk dalam dada.

Begitu pertandingan berakhir 1-0 untuk Persebaya, perasaan gembira langsung membuncah. Dua tim kesayangan sama-sama lolos ke babak 8 besar Piala Presiden 2018. Mirip seperti yang dikatakan Ahmad Dhani dalam salah satu lagunya, Aku Cinta Kau dan Dia.

Darah saya masih ‘hijau’ tapi Madura United wajib dijunjung dan dibela. Profesional hanya tunduk dan patuh pada profesi. (rr)

ROSSI RAHARDJO (Pemimpin Redakasi Harian Pagi Kabar Madura)

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top