OPINI

Kami Masih Belum Mau Mati


SEJAK beberapa waktu lalu, ancaman senjakala media cetak menjadi hantu menakutkan bagi pegiat jurnalistik cetak. Tanda-tanda media cetak menunggu lonceng kematiannya ditandai dengan munculnya banyak media online atau portal berita.

Di Jawa Timur saja, jumlah media online yang tercatat sebagai anggota Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur mencapai angka lebih dari 100 yang tersebar dari Banyuwangi di ujung timur hingga Ngawi di kabupaten terbarat di Jawa Timur, termasuk Madura yang menjadi base pengelolaan media online dengan jumlah signifikan.

Lalu apakah dengan menjamurnya media online menjadi ancaman bagi media cetak (koran) sebagaimana dulu ketika media televisi booming banyak kalangan menyebut jika masa depan radio menjadi suram?

Kata koran berasal dari Krant (Belanda) dan Courant (Perancis). Koran pertama yang terbit di dunia dibuat oleh Benjamin Harris, seorang berkebangsaan Inggris pada tahun 1690 di Amerika Serikat. Surat Kabar tersebut diberi nama Public Occurances Both Foreign and Domestic yang dihentikan penerbitannya dan tidak boleh beredar karena tidak memeiliki izin terbit dari pemerintah setempat.

Media (koran) diproduksi untuk merespon perkembangan sosial dan budaya yang selanjutnya memengaruhi perkembangan sosial dan budaya itu sendiri.  Marshall McLuhan, seorang tokoh terkemuka dalam penelitian budaya populer pada tahun 1960-an, sebagaimana dikutip dari buku Communication Network: Toward a New Paradigma for Research karya Everett M. Rodgers (1981) mengatakan media merupakan perpanjangan pikiran manusia. Media yang mengikat ruang (space building) seperti koran bersifat ringan dan mudah dipindahkan sehingga memudahkan proses komunikasi dari satu tempat ke tempat lain.

Kematian media cetak secara keseluruhan memang belum menjadi kenyataan meski salah satu koran nasional bersamaan dengan momen perayaan idul fitri lalu resmi menutup seluruh biro daerah dan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal kepada karyawannya. Sebelumnya, beberapa koran nasional dan daerah juga sudah harus mengakhiri produksi dengan sejumlah alasan. Banyak dari koran-koran tersebut mati dan beralih rupa menjadi media online. Namun eksistensi beberapa koran masih bertahan dan tetap menjadi bagian dari kebutuhan informasi khalayak.

Memang terjadi pengurangan besar-besaran terhadap oplah dan jumlah halaman media cetak di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Tapi kecerdikan penerbit untuk melakukan restrukturisasi dengan kebijakan konvergensi media mampu menyelamatkan koran dari kematian dini. Sebenarnya tantangan koran bukan hanya terkait dengan media online. Manajemen perusahaan koran juga dihadapkan pada mahalnya biaya cetak, harga kertas, hingga jangkauan pemasaran yang terbatas.

“Industri pers tidak akan runtuh karena perkembangan internet. Ketika teknologi sudah merasuk, tugas media hanya beradaptasi menghadapi perubahan itu,” tegas Mantan Presiden Asosiasi Penerbit Koran dan Berita Sedunia (WAN-IFRA) Jacob Mathew, 2013 silam.

Seperti makhluk hidup yang harus terus beradaptasi agar tetap hidup, koran juga harus melakukan adaptasi jika tidak ingin mati. Ingat dalam kondisi saat ini, hanya yang kuat saja yang akan bertahan. Koran tidak boleh lagi hanya menjual berita apa adanya. Reporter, redaktur, dan pemimpin redaksi harus kreatif mengemas berita dan mengolaborasikan dengan konten-konten menarik seperti data dan infografis yang harus dibuat sesuai dengan karakter pembacanya.

Generasi yang lahir setelah tahun 2000 tumbuh dan besar bersama gawai. 10 atau 20 Tahun mendatang bisa jadi mereka tidak akan mengenal lagi koran karena saat ini mereka sudah terbiasa membaca berita melalui gawai pintar yang ada dalam genggamannya. Kuncinya koran harus beradaptasi.

Memang harus diakui jika saat ini perbandingan pembagian kue iklan koran masih lebih besar dibandingkan media online. Namun jumlah revenue iklan dan pelanggan juga terus menurun akibat semakin banyaknya khalayak yang beralih ke berita online.

Perusahaan riset Nielsen Indonesia memperkirakan belanja iklan di media televisi dan cetak pada 2017 akan tetap tumbuh. Nielsen Indonesia mencatat belanja iklan di televisi dan media cetak tahun 2016 mencapai Rp 134,8 triliun. Jumlah itu naik 14 persen dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 118 triliun. Media televisi menyumbangkan Rp 103,8 triliun atau 77 persen dari total belanja iklan.

Sementara untuk media cetak seperti koran dan majalah turun. Pada tahun 2016 belanja iklan di koran sebesar Rp 29,4 triliun atau 22 persen dari total keseluruhan, sedangkan belanja iklan di majalah dan media online hanya 1 persen atau Rp 1,6 triliun dari total keseluruhan.

Senjakala media cetak sejatinya bukan disebabkan oleh kehadiran internet dan media online. Justru wartawan (reporter dan editor) koran sendiri yang berperan besar mempercepat kepunahan koran. Banyak berita koran yang ditulis sama dengan berita online padahal dari sisi kecepatan penyajian kepada khalayak saja sudah kalah telak karena koran baru terbit keesokan harinya.

Kesamaan tersebut mulai angle berita maupun pemilihan judul. Bahkan ada wartawan koran yang melakukan 100 persen copy paste berita online. Jika sama, mengapa orang harus membeli dan membaca koran? Di media online, berita-berita itu sudah disajikan secara gratis.

Koran sudah kalah cepat dengan online. Jika koran kualitasnya sama dengan media online, maka habislah riwayat koran. Orang tak akan lagi mencarinya.

Koran yang dicari khalayak harus menyajikan angle-angle yang tidak didapat di media online. Koran memang harus dibuat seperti itu. Tentu tugas jurnalis koran semakin berat. Tapi hal itu membuat khalayak membutuhkan koran dan bersedia membeli produk koran hingga memasang iklan.

Alhamdulillah, tahun ini Harian Pagi Kabar Madura yang sudah berusia lima tahun masih sanggup melangkah dengan semangat seluruh kru dari jajaran direksi, manajemen, redaksi, hingga nonredaksi.

Kepercayaan pembaca dan pemasang iklan seolah menjadi energi penguat dan pendorong bagi kami yang jangankan berpikir meningkatkan kesejahteraan karyawan, untuk tetap hidup saja kami harus memeras kreativitas untuk menghasilkan kerasi-kreasi baru agar koran dan khususnya Harian Pagi Kabar Madura tidak mati. (*)

 

Rossi Rahardjo

Pemimpin Redaksi Harian Pagi Kabar Madura

 

 

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top