OPINI

Puasa Ramadan dan Perilaku Konsumerisme


Puasa Ramadan diperintahkan oleh Allah untuk menjadikan manusia bertakwa. Dengan berpuasa seseorang akan selalu dididik untuk menjadi insan yang muttaqin kepada rab-Nya.

Seseorang yang berpuasa, tidak akan mudah terombang-ambing oleh godaan dan rayuan kemewahan dunia karena seseorang yang berpuasa telah dibentengi oleh iman dan takwa, itulah sejatinya sikap dan sifat orang yang berpuasa Ramadan.

Sedang orang yang bertakwa akan selalu merasa ‘diawasi’ oleh Allah SWT dalam setiap tindak-tanduknya, kapan pun dan dimana pun ia berada. Sehingga manusia akan selalu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dengan rasa tulus dan ikhlas hanya karena mengharap ridha dari Allah SWT semata. Disamping itu, orang yang bertakwa akan selalu menghiasi pribadinya dengan cahaya iman, baik dalam amaliah dan gaya hidup sehari-hari, yang tidak kalah penting adalah menjauhi perilaku konsumtif (boros) karena perilaku tersebut tergolong perbuatan yang tidak disukai oleh Allah dan Rasulnya.

Disadari atau tidak, perilaku konsumtif masyarakat di bulan ramadan sangat mudah kita jumpai. Bahkan kita bisa melihat dipusat perbelanjaan, pun tempat pembelian makanan pengunjungnya meningkat drastis pada bulan ramadan. Mulai dari berbelanja aneka makanan, baju dan lain sebagainya. Padahal sejatinya, bulan puasa ramadan sebagai wahana untuk melatih kita agar kita tidak menjadi masyarakat yang konsumeris, karena perilaku konsumtif sangat berkaitan dengan pemborosan dan perilaku ini sangat dilarang keras dalam islam.

Banyaknya masyarakat yang kehidupannya bermewah-mewahan dalam bulan puasa ramadan sepertinya belum memahami esensi puasa ramadan. Padahal sejatinya, bulan ramadan disamping memanifestasikan predikat takwa juga melatih keshalihan sosial kita.

Jika dipahami secara seksama, berpuasa yang secara naluriah mendatangkan rasa lapar dan haus, justru melahirkan sebuah kesadaran tentang perlunya solidaritas, kepedulian, dan kesetiakawanan sosial, serta tanggung jawab dari kelompok yang diberi kelapangan dan kemudahan hidup, kelompok yang terdidik, berkecukupan dan tercerahkan terhadap kelompok yang miskin, lemah dan terpinggirkan (mustadh’afin). Karena hikmah berpuasa di bulan ramadan adalah menjadi bulan keprihatinan, bulan yang melahirkan kepedulian sosial, bulan untuk belajar mengurangi konsumsi makanan dan minuman. Bahkan lebih dari itu, bulan ramadan sejatinya untuk melatih diri dan menimbulkan kesadaran agar seseorang menjadi hemat dalam semua jenis perbelanjaan dan kegiatan.

Dengan kata lain kesadaran tentang rasa lapar dan haus yang timbul akibat berpuasa hendaknya semakin mendorong kita untuk menjauhi sifat mubazir atau boros, di satu segi dan sifat kikir serta bakhil di segi yang lain, sehingga akan timbul keshalihan peribadi dan keshalihan sosial.

Sifat mubazir atau boros sangat dicela oleh Allah bahkan diklaim sebagai saudara setan (ikhwanas syayathin). Tetapi sangat disayangkan, alih-alih mendorong kita menjadi hemat ketika sedang berpuasa, di dalam kenyataannya belanja rata-rata keluarga Muslim dalam bulan ramadan relatif lebih banyak dari bulan-bulan lainnya.

Kenyataan ini seharusnya menimbulkan kegelisahan dan kerisauan kita, karena salah satu hikmah berpuasa, yaitu membimbing dan mengajari kita untuk selalu hemat serta tidak boros dan tidak kikir masih harus kita renungkan secara lebih dalam dan lebih serius lagi. Agar kita tidak terjebak pada mentalitas baru konsumerisme yang mencerminkan semangat kapitalisme, namun mengabaikan dimensi ibadah sosial. Hal ini tercermin dari penuh sesaknya pasar-pasar dan mall oleh orang-orang yang berbelanja dengan semangat konsumsi yang tinggi. Padahal puasa adalah kesederhanaan dan kebersahajaan dan jika ada kelebihan dianjurkan untuk bersedekah selain kewajiban berzakat.

Meningkatnya Kebutuhan Pokok dan Perilaku Konsumtif

Setiap bulan Ramadan, sebagian kaum Muslim, mungkin berada dalam situasi keprihatinan dan sedih karena tidak bisa membeli apa yang diinginkan utamanya kebutuhan pokok. Karena disetiap bulan puasa Ramadan bahan pokok naik. Setidaknya ada tiga pemicu kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut setiap bulan puasa ramadan: pertama, melonjaknya permintaan akan kebutuhan pokok selama Ramadan. Kedua para pedagang ingin mendapatkan hasil yang lebih dari pada hari-hari sebelumnya. Ketiga memanfaatkan bulan puasa Ramadan.

Ketiga faktor tersebut sangat berhubungan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Misalnya, karena kebutuhan pokok semakin meningkat disetiap bulan puasa Ramadan, semua orang sudah maghuf bahwa setiap bulan ramadan para pembeli semakin meningkat sehingga juga menarik pedagang untuk menaikkan barang daganganya, karena dalam konsep jual beli semakin banyak pembeli maka akan semakin meningkatkan harga barang, dan bulan ini selalu dimanfaatkan oleh para pedagang.

Semua perihal tersebut membuat masyarakat tidak bisa menahan diri untuk membeli apa yang dinginkan. Padahal semestinya kita harus bersungguh-sungguh mengendalikan konsumsi. Bukankah hakikat puasa yang kita laksanakan selama Ramadan ialah menahan diri?
Kepatuhan kita untuk mengendalikan diri juga menjadi esensi dari puasa. Puasa adalah sebuah simbol kesederhanaan dan kebersahajaan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengendalikan konsumsi yang berlebihan untuk keperluan Ramadan.
Penghematan atau pengendalian konsumsi adalah bagian dari menahan hawa nafsu dalam memenuhi kebutuhan jasmani. Sementara dengan berpuasa hakikatnya adalah menekankan pentingnya kebutuhan rohani.

Selain itu, melalui penghematan atau pengendalian konsumsi juga akan mengerem laju kenaikan harga kebutuhan bahan pokok tersebut. Karena dengan menghemat, permintaan akan menurun. Hukum ekonomi mengatakan, bila permintaan menurun, penawaran pun menurun dan harga akhirnya ikut turun.

Di sisi lain, kenaikan harga kebutuhan pokok membuat daya beli sebagian rakyat menurun. Kita prihatin melihat rakyat yang tak mampu menikmati Ramadan karena menurunnya daya beli mereka, karena kemiskinan mereka.
Perihal tersebut karena perilaku konsumerisme sudah menjadikan masyarakat lupa akan esensi puasa Ramadan. Oleh karena itu, mari jadikan bulan puasa ini sebagai latihan untuk mengerim berbelanja yang berlebihan agar hadirnya puasa Ramadan bermakna bagi semua orang baik kaya maupun miskin karena tumbuhnya kesalihan sosial kita. Amin

* ditulis oleh: Slamet Ariyadi, S.Psi.
Ketua Gerakan Pemuda Sampang (GPS)

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top