OPINI

Antara Jujur dan Dusta


Oleh: Alif Rofiq

Hidup yang kian banal ini, semakin mengaburkan garis yang terang antara: jujur dan dusta. Bahkan eksperesi material pun, selalu bukan isi yang sebenarnya. Orang boleh bersurban, bergamis dengan jenggot lebat dan panjang lebih dua jengkal, tapi tidak menutup kemungkinan ia adalah penjahat yang sedang menyamar. Bahkan, teriakan takbir pun di persimpangan jalan, tak dapat menjamin tentang kesucian umat Islam. Bisa jadi, ia hanya pura-pura, karena sakunya telah tebal dengan lembaran uang sogokan. Demikian pula bagi sejumlah tehnokrat yang selalu tampil dengan argumentasinya tentang kemajuan dan pembangunan, sebenarnya hanya bahasa lain dari “perampasan” terhadap sejumlah kehidupan masyarakat kecil.

Kita mungkin akan bingung melalui kategori apa kita akan menilai baik dan buruknya orang lain, ketika garis yang membatasi keduanya sudah nyaris tak terlihat wujud dan rupanya. Masihkah memungkinkan kita untuk menilainya? Atau memang tak perlu sebuah penilaian itu ada. Karena kalau kita mau jujur, sejatinya perbuatan baik atau perjuangan tanpa pamrih itu tak butuh penilaian. Di saat banyak penilaian tersebut selalu dan/atau telah tersituasikan oleh kepentigannya masing-masing.

Gampangnya begini. Bagi seorang politisi, jujur, berjuang dan berbuat baik apa adanya kepada sesama itu akan menjadi sikap yang salah. Karena politisi kebanyakan harus berbohong dengan menyebarkan janji manis walaupun nanti tanpa bukti yang nyata, untuk mengaup suara dukungan yang melimpah. Beda dengan aktivis militan-ideologis, ia harus jujur apa adanya, berjuang betul-betul untuk kedaulatan. Serupa juga dengan maling bahwa pekerjaannya yang benar adalah mencuri, tapi beda dengan polisi. Karena bagi polisi pekerjaannya yang benar adalah menangkap penjahat, termasuk maling. Jadi bagi polisi, mencuri adalah pekerjaan yang salah.

Memang tak ada kebenaran secara kolektif untuk setiap pekerjaan-pekerjaan bijaksana. Karena sebenarnya pengakuan akan kebenaran bukan sesuatu yang penting. Berhasil atau tidaknya sebuah perbuatan baik, bukan dinilai sejauh mana penilaian orang lain kepada kita, namun justeru sejauh mana perbuatan baik kita itu bekerja secara maksimal kepada orang tersangkut. Inilah kemudia dalam psikoanalisis JacquesLecan, dikenal sebagai “perspektif liyan” (yang lain). Sebuah prinsip yang menolak dengan tegas mengenai kebenaran yang berasal dari luar pusat kebenaran itu berada. Oleh karena itu, baik dan buruk tidak ditentukan oleh sesuatu di luar diri kita. Namun oleh kita sendiri.

Jujur dan dan dusta kemudian juga ditentukan oleh diri kita sediri, yaitu: sejauh mana sikap kita dapat mendefinisikan dua hal yang hendak akan kita pilih tersebut. Apakah jujur atau dusta yang kita pilih. Karena bagaimanapun, sikap seseorang sejatinya dengan sendirinya menjelaskan siapa sebenarnya dia. Jadi, seorang muslim sejati bukan ditentukan oleh selihai apa ia memakai sorban dan sekencang apa ia berteriak takbir. Namun sejau mana ia bersikap kepada orang lain dan sejauh mana ia benar-benar berjuang untuk kepentingan masyarakat. Di sinilah tembok pembatas antar jujur dan dusta ini dapat dibangun kembali. Yang kemudian menampakkan lebih terang garis rambu-rambu antara jujur dan dusta sekaligus pula antara benar dan salah.

Wallahua’lam…

*) Alif Rofiq, Ketua PC PMII Sumenep

 

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top