LENTERA

Supaya Kalian Berbahagia


Oleh: Jalaluddin Rakhmat

Dalam Al-Quran, di antara kata yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan adalah aflaha. Di empat ayat Al-Quran (yaitu QS 20: 64, QS 23: 1, QS 87: 14, QS 91: 9) kata itu selalu didahului kata penegas qad (yang memiliki arti ‘sungguh’) sehingga berbunyi qad aflaha atau ‘sungguh telah berbahagia’. Aflaha adalah kata turunan dari akar kata falâh.

Kamus-kamus bahasa Arab klasik memerinci makna falâh sebagai berikut: kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus-menerus dalam keadaan baik; menikmati ketenteraman, kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus-menerus, keberlanjutan.

Bagi saya, perincian makna falâh tersebut merupakan komponen-komponen kebahagiaan. Kebahagiaan bukan hanya ketenteraman dan kenyamanan saja. Kenyamanan atau kesenangan satu saat saja tidak melahirkan kebahagiaan. Mencapai keinginan saja tidak dengan sendirinya memberikan kebahagiaan. Kesenangan dalam mencapai keinginan biasanya bersifat sementara. Satu syarat penting harus ditambahkan, yaitu kelestarian atau menetapnya perasaan itu dalam diri kita.

Ingatkah Anda bahwa setiap hari, paling tidak sepuluh kali, muazin di seluruh dunia Islam meneriakkan hayya ‘ala al-falâh, atau ‘marilah meraih kebahagiaan’. Dalam mazhab Ahlul Bait, setelah hayya ‘ala al-falâh, mereka membaca hayya ‘ala al-khayr atau ‘marilah kita berbuat baik’. Orang yang bahagia cenderung berbuat baik. Anda diajak dulu berbahagia. Setelah itu, Anda diajak untuk mempertahankan kebahagiaan itu dengan berbuat baik. Jadi, suara muazin itu saja sudah cukup menjadi bukti bahwa agama Islam memanggil umatnya setiap saat untuk meraih kebahagiaan.

Kata turunan selanjutnya dari aflaha adalah yuflihu, yuflihâni, tuflihu, tuflihâni, yuflihna (semua kata itu tidak ada dalam Al-Quran), dan tuflihûna (disebut sebelas kali dalam Al-Quran dan selalu didahului dengan kata la’allakum. Makna la’allakum tuflihûna adalah ‘supaya kalian berbahagia’). Dengan mengetahui ayat-ayat yang berujung dengan kalimat la’allakum tuflihûna (dalam QS 2: 189, QS 3: 130, QS 3:200, QS 5: 35, QS 5: 90, QS 5:100, QS 7: 69, QS 8: 45, QS 22: 77, QS 24: 31, QS 62: 10) kita diberi pelajaran bahwa semua perintah Tuhan dimaksudkan agar kita hidup bahagia. Saya kutipkan ayat-ayat yang memuat kalimat tersebut.

  • Bertakwalah kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 2:189).
  • Wahai orang-orang beriman! Janganlah kalian makan riba yang berlipat-lipat. Bertakwalah kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 3: 130).
  • Wahai orang-orang beriman! Bersabarlah dan saling menyadarkan, serta perkuat persatuanmu agar kalian berbahagia (QS 3: 300).
  • Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Berjuanglah di jalan Allah agar kalian berbahagia (QS 5: 35).
  • Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya minum minuman keras, perjudian, undian, dan taruhan adalah kotoran dari perbuatan setan. Jauhilah, agar kalian berbahagia (QS :90).
  • Katakanlah: tidak sama antara keburukan dan kebaikan, walaupun banyaknya keburukan memesona kalian. Bertakwalah kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 5: 100).
  • Kenanglah anugerah-anugerah Allah agar kalian berbahagia (QS 7: 69).
  • Wahai orang-orang beriman! Jika kalian berjumpa dengan sekelompok musuh, teguhkanlah hatimu. Banyaklah berzikir kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 8: 45).
  • Wahai orang-orang beriman! Rukuklah dan sujud Beribadahlah kepada Tuhanmu, serta berbuatlah kebaikan agar kalian berbahagia (QS 22: 73).
  • Bertobatlah kalian kepada Allah seluruhnya, wahai orang-orang beriman, agar kalian berbahagia (QS 24: 31).
  • Apabila selesai melaksanakan shalat, menyebarlah di penjuru bumi. Carilah anugerah Allah dan banyaklah ingat kepada Allah agar kalian berbahagia (QS 62: 10).

Ayat-ayat di atas tidak saja menunjukkan bahwa tujuan akhir dari semua perintah Tuhan adalah supaya kalian berbahagia, tetapi juga perincian perbuatan yang bisa membawa kita kepada kebahagiaan. Di dalam hadis, membahagiakan orang lain dipandang sebagai amal shaleh yang sangat mulia di hadapan Allah. Sebelum sampai kepada hadis-hadis itu, simaklah kisah berikut ini.

Ada satu masa ketika para pengikut Ahlul Bait dikejar-kejar oleh para penguasa kala itu, nama mereka dimasukkan dalam daftar hitam. Para penguasa merampas hak mereka sebagai manusia, merampas harta, kehormatan, dan nyawa mereka. Salah seorang murid Imam Musa ibn Ja’far berniat menyelamatkan diri dengan berhaji. Sebelum keberangkatannya, ia menyempatkan diri menemui Imam Musa dan mengadu kepadanya. Ia juga diberi tahu bahwa ada salah seorang komandan militernya yang telah menjadi pengikut mazhab Ahlul Bait secara diam-diam.

Imam Musa menyuruh muridnya itu untuk membawa surat kepada sang komandan. Dalam surat itu tertulis: “Dengan nama Allah yang Mahakasih dan Mahasayang … Ketahuilah! Di bawah arsy ada perlindungan yang tidak ditempati kecuali oleh orang yang memberikan bantuan kepada saudaranya, membebaskan kesulitannya, dan memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya. Pembawa surat ini adalah saudaramu. Wasalam.”

“Sepulang berhaji,” kata pembawa surat itu, “aku mengunjungi sang komandan dan memberikan surat Imam Musa kepadanya. Ia mencium surat itu sambil berdiri. Setelah membacanya, ia memanggil orang untuk menghadiahkan harta dan pakaian kepadaku. Ia juga menghapus aku dari daftar hitam. Aku menerima surat kebebasan dari segala macam tuntutan. Setelah itu, aku pun berlalu. Dalam hati aku berkata: rasanya aku tidak bisa membalas kebaikannya kecuali aku akan berhaji lagi tahun depan. Aku akan berdoa baginya. Aku akan menyampaikan kabar dirinya kapada Imam Musa.

Pada musim haji berikutnya, aku menemui Imam Musa. Aku ceritakan perihal komandan yang membantuku itu. Wajah Imam tampak bersinar gembira. Aku bertanya kepadanya: Apakah komandan itu membuatmu bahagia? Imam menjawab: Benar. Demi Allah! Ia telah membahagiakanku dan membahagiakan Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukmin). Demi Allah! Ia juga telah membahagiakan kakekku, Rasulullah. Demi Allah! Ia juga telah membuat Allah rida kepadanya.”

Apa yang disampaikan Imam Musa sebetulnya menjelaskan apa yang disabdakan Nabi Muhammad: “Siapa yang membahagiakan seorang mukmin berarti ia telah membahagiakan aku. Siapa yang membahagiakan aku berarti telah membahagiakan Allah.” Ketika Nabi ditanya tentang amal yang paling utama, beliau menjawab, “Engkau masukkan rasa bahagia pada hati seorang mukmin, engkau lepaskan kesulitannya, engkau hibur hatinya, engkau lunasi utang-utangnya.”

Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan di padang mahsyar. Ketika Allah membangkitkan seorang mukmin, Ia juga membangkitkan seseorang yang mirip dengannya. Orang yang mirip itu berjalan seraya membimbing si mukmin. Ketika si mukmin melihat sesuatu yang menakutkan, orang yang mirip itu menenteramkannya. Ketika si mukmin melihat hal-hal yang menyedihkan, orang yang mirip itu menghiburnya. Kemudian, di hadapan pengadilan Tuhan, orang yang mirip itu membela si mukmin. Pada akhir pengadilan, si mukmin mendapatkan keputusan: adkhilûhu al-jannah! Masukan dia ke dalam surga!

Orang yang mirip itu kemudian mengantarkan si mukmin ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan. Si mukmin terpesona dengan kesetiaan orang yang mirip dengannya itu, dan bertanya, “Siapa kau sebenarnya?” Orang yang mirip itu menjawab, “Dulu, di dunia, setiap kali kau membahagiakan manusia, Allah menciptakan makhluk sepertiku agar aku bisa memberikan kebahagiaan kepadamu pada hari ini.”

Anda mungkin berkata, “Hadis-hadis ini tidak relevan dengan tesis bahwa kita wajib berbahagia. Dari situ kita hanya dapat menyimpulkan bahwa kita wajib membahagiakan orang lain.” Saya akan menjawab, “Dalam hadis-hadis itu, kita tidak disuruh untuk membahagiakan orang lain. Nabi menyuruh kita membahagiakan mukmin. Dan mukmin yang paling dekat dengan kita adalah diri sendiri.”

Untuk beramal saleh, Nabi menegakkan prinsip “ibda’ binafsik”, “mulailah dari dirimu.” Sebelum menyucikan orang lain, sucikanlah dirimu lebih dahulu. Anda tidak dapat mencintai orang lain dengan tulus sebelum Anda mencintai diri Anda sendiri. Anda boleh meminta maaf setelah Anda memaafkan. Akhirnya, Anda hanya bisa membahagiakan orang lain jika Anda sudah berhasil membahagiakan diri Anda.

Karena itu, Nabi dan Imam Ali memberikan contoh doa memohon kehidupan yang bahagia: Ya Allah! Aku memohon kepada Engkau, anugerahkan kepadaku keberuntungan dalam ketentuan-Mu, kedudukan para pejuang kebenaran, kehidupan orang-orang yang bahagia, pertolongan dari musuh-musuh, dan berkumpul bersama para Nabi.

Nabi juga mengajarkan kita untuk memohon perlindungan dari hal-hal yang dapat merampas kebahagiaan kita:

Ya Allah! Aku berlindung kepadamu dari kesusahan dan penderitaan, dari kelemahan dan kebosanan, dari kepengecutan dan kebakhilan, dari belitan utang dan pengendalian orang lain.

 

Sumber: Jalaluddin Rakhmat, Tafsir Kebahagiaan, Jakarta: Serambi, 2010, cetakan pertama, hlm. 17-28.

Kamus Kecil

 

Ahlul bait: istilah yang berarti “Orang Rumah” atau keluarga. Dalam tradisi Islam istilah itu mengarah kepada keluarga Rasulullah.

Arsy: makhluk tertinggi, berupa singgasana seperti kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para Malaikat.

Daftar hitam: menjadi buncah (keruh).

Komandan: kepala (pemimpin) pasukan (di suatu daerah, kota, atau benteng); kepala (pemimpin) sekelompok pasukan.

Komponen: bagian dari keseluruhan; unsur.

Lestari: tetap seperti keadaannya semula; tidak berubah; bertahan; kekal.

Mazhab: haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam (dikenal empat mazhab, yaitu mazhab Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafii).

Muazin: orang yang menyerukan azan; juru azan.

Padang mahsyar:

Riba: bunga uang.

Rukuk: sikap membungkuk pd waktu salat, dng tangan ditekankan di lutut sehingga punggung dan kepala sama rata.

Sujud: berlutut serta meletakkan dahi ke lantai (misal pada waktu salat).

Zikir: puji-pujian kepada Allah yang diucapkan berulang-ulang.

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top