LENTERA

Menjadi Nahdliyin Inklusif


Fanatisme terhadap golongan atau organisasi, kerap membuat cara pandang sosial-keagamaan kita menjadi sempit. Karena beda ‘baju’, kita sering menutup diri atas pemikiran golongan yang tak seragam ‘bajunya’ dengan kita.

Hal demikian tampaknya kini menjerat warga nahdliyin. Dengan klaim sebagai organisasi terbesar di dunia, NU hadir tak ubahnya agama. Keberadaannya kuasa menggeser platform pemikiran masyarakat, baik yang hidup di kota maupun yang bermukim di pelosok desa.

Nahdliyin di Pulau Madura, tentu berada di garda terdepan dalam membela dan menjunjung tinggi segala paham keagamaan yang melekat pada NU. Bagi mereka, NU tak ubahnya ‘agama’ yang kebenarannya tak perlu diperdebatkan. Jika keluar dari garis pemikiran NU mayoritas, siap-siaplah dicab sebagai wahabi, Islam garis keras, arabisme, dan sejenisnya.

Sejatinya, pola sikap dan pemikiran seperti itu bukanlah karakter NU. Sebab, NU dikenal sebagai organisasi yang moderat dan terbuka terhadap ragam pemikiran. Terpenting, semuanya bisa dipertanggungjawabkan secara arif, tanpa memojokkan pihak lain.

Keinklusifan NU terlihat pada  spirit memelihara pemikiran lama yang baik dan mengambil pemikiran baru yang lebih baik. Nalar keagamaan yang terbuka sudah dicuatkan oleh para pendiri NU.

Sayangnya, spirit tersebut tampaknya mulai luntur. Utamanya di kalangan pemuda. Mereka tak jarang terjebak pada ritme keagamaan di luar NU yang tidak moderat dan mengedepankan kebencian ketimbang kecintaan sesama muslim.

Ujaran kebencian yang menjadi ciri khas pola keagamaan di luar NU, kini menjalar ke tubuh pemuda NU. Sebagian kecil dari mereka terperangkap untuk juga mengerdilkan golongan yang mengerdilkan NU. Padahal, pendiri NU tidak mengajarkan hal itu.

Dalam menyikapi persoalan, para pendiri NU menekankan agar kita selalu menebar senyum. Lebih dari itu, tidak tinggal diam terhadap pola keberagamaan yang hendak mengerdilkan NU. Kuncinya: melawan semangat pengerdilan dengan hati jernih dan logika yang tajam.

Pola keagamaan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bisa menjadi cerminan. Ketika beliau berbeda pendapat, atau bahkan tatkala dicaci maki, beliau meresponnya dengan kata-kata lembut. Namun, kata-katanya tidak lebay. Melainkan, mampu menusuk jantung pemikiran lawannya. Sehingga, lawannya tak berkutik, mati kutu tanpa harus merasa tersakiti.

Petinggi NU stuktural semacam KH Ma’ruf Amin, juga bisa jadi teladan baik bagi pemuda NU. Dengan lapang dada, beliau menerima permohonan maah Ahok yang sebelumnya mencercanya dengan perkataan dan sikap yang menyesakkan dada warga nahdliyin.

Menjadi NU inklusif menjadi kemestian. Melaluinya, nilai-nilai dasar ke-NU-an yang sudah ditancapkan para pendirinya, tidak luncur seiring perkembangan zaman.

Dari penjabaran tersebut, fanatisme terhadap NU merupakan sebuah keniscayaan. Terpenting, caranya mengikuti sikap atau perilaku yang ditunjukkan para kiai NU yang terkenal moderat, bukan ia yang mengaku NU tetapi sikapnya tidak jauh berbeda dengan mereka yang suka menebar kebencian. Selamat ber-NU! (redaksi)

 

Terpopuler

© Copyright2017 kabarmadura.co. All Rights Reserved.Themetf

To Top